Monday, October 4, 2010

Ringkasan: Sinners in The Hands of An Angry God (Jonathan Edwards)



Keberdosaan umat Allah membawa mereka hidup di bawah anugerah Allah yang sangat besar. Namun di sisi lain, mereka tentu akan menghadapi murka Allah. Kehidupan orang fasik digambarkan seperti di dalam Mzm 73, yaitu berada di tempat licin, di mana mereka mudah terpeleset. Mereka tidak menyadari akan keberadaan mereka dan tidak tahu kapan mereka akan jatuh. Pada saat ini mereka belum jatuh karena Allah sendiri yang menopang mereka. Namun, tidak untuk selamanya Allah akan menopang mereka, sehingga pada suatu saat nanti (waktu Allah), mereka akan jatuh dan hancur. Tidak ada satupun yang dapat menolong mereka.
Semua itu berada di dalam kedaulatan Allah. Tidak ada kekuatan yang dapat menahan atau melepaskan diri dari tangan-Nya. Orang fasik adalah orang yang pantas untuk dibuang ke dalam neraka. Dan kerena keadilan Allah yang tidak pernah berjalan setengah-setengah, mereka tidak hanya dibuang kesana, tetapi juga mendapat penghukuman dari Allah, yaitu suatu hukum kebenaran yang kekal. Bahkan dengan demikian, dapat dikatakan bahwa orang-orang fasik inilah yang akan menjadi objek murka Allah.
Pada saat ini, mereka belum turun ke neraka, bukan berarti Allah tidak murka terhadap mereka melainkan Allah (dalam Yesus) juga merasakan dan menanggung murka-Nya di sana. Setan telah menjadikan mereka menjadi miliknya atas ijin Allah. Namun, saat ini mereka mesih berada di bawah kuasa Allah. Jika Allah telah melepaskannya, maka setan-lah yang akan berkuasa penuh untuk memangsanya. Jiwa dari orang fasik berada dalam prinsip neraka yang saat ini masih ada di dalam kontrol Allah. Sehingga prinsip tersebut belum berlaku sepenuhnya.
Dari semua penggambaran itu, tampak bahwa tidak ada jaminan keamanan bagi mereka. Kehidupan mereka seperti berjalan pada tempat yang setiap waktu dapat menghancurkan mereka. Banyak hal yang dilakukan oleh mereka untuk usaha dan menghibur diri dari ancaman itu, mereka menggunakan hikmatnya sendiri dan begitu yakin pada hal itu. Semua usaha itu tentu tidak mampu membawa keselamatan untuk mereka.
Allah telah meletakkan diri-Nya pada posisi yang tidak bertanggungjawab, karena Allah telah memberikan janji-Nya, namun mereka adalah orang-orang yang tidak tertarik dengan hal tersebut. Sehingga tidak ada kewajiban bagi Allah untuk menjaga hidup mereka dari penghancuran kekal.

Penerapan
            Di dalam dunia yang sengsara, orang yang berada di luar Kristus, sama sekali tidak apapun yang dapat menjadi pegangan. Banyak orang yang merasa dirinya terselamatkan dari hukuman itu, dan tidak melihat bagaimana tangan Allah di dalam dirinya. Tampak dari segala hal yang ada di sekitar kita, di mana ciptaan yang masih mendukung kehidupan kita, namun hal itu terjadi untuk kemuliaaan Allah. Sedangkan sebenarnya dikatakan bahwa kita adalah beban bagi bumi.
Murka Allah digambarkan seperti air bah yang dibendung/ ditahan sementara kita terus melakukan kesalahan yang akan membuat air itu makin tinggi, sehingga saat Allah membuka pintu itu, akan datang murka yang mengerikan.
            Setiap orang tidak akan mengalami perubahan besar dalam hati, jika tidak ada kuasa Roh Kudus dalam diri yang bekerja. Manusia yang tidak dilahirkan kembali, dijadikan ciptaan baru, dan dibangkitkan dari kematian, ia tidak akan mengalami terang dan hidupnya ada di dalam murka Allah.
            Murka Allah adalah yang paling dahsyat, mempunyai potensi yang sangat besar. Maka, seharusnyalah manusia menakuti hal itu, karena penghukuman-Nya merupakan kesengsaraan yang harus dihadapi sampai akhir. Di dalam hal inilah tampak keagungan Allah, di mana kesempurnaan kasih-Nya sebanding dengan murka-Nya yang mengerikan.


Book Review: Hancurkan Kuasa Iblis dalam Diri Anda (Thimas J. Sappington)


 
A. Definisi Demonisasi
            Manusia adalah makhluk yang lemah, dimana  selama masih hidup di dunia ini manusia mempunyai keinginan daging. Dan Iblis menggoda manusia melalui kelemahan ini. Namun, manusia mempunyai kuasa yang diberikan oleh Tuhan untuk menghancurkan benteng Iblis. Sehingga Iblis  hanya bisa masuk jika manusia membuka kesempatan untuknya. Hal ini juga tergantung dari derajat ketidaktaatan dan keterlibatan seseorang dengan kuasa gelap. Oleh karena itu, bagaimana Iblis menggoda atau mempengaruhi seseorang itu tidaklah sama. Dan dengan kelicikannya, dia dapat menipu, mencobai, mengikat, menuduh, membuat kecil hati atau adanya perselisihan antara saudara seiman. Inti dari semua itu adalah agar kemuliaan Tuhan tidak tampak dari kehidupan dan pelayanan kita. Dan itu berarti hidup kita masih jauh dari kemerdekaan Kristus.

B. Orang Kristen yang kerasukan menurut Sappington
            Semua orang termasuk orang Kristen akan mudah digoda oleh Iblis jika dia membuka kesempatan untuk itu. Dan sampai sejauh mana Iblis mempengaruhi hidupnya adalah tergantung dengan ketidaktaatan dan keterlibatannya dengan kuasa  gelap. Untuk orang yang hidupnya sudah dipengaruhi oleh Iblis ini, dia harus memperoleh pelayanan khusus untuk membantunya lepas dari jeratan itu. Dan tujuan Iblis di sini adalah untuk menghancurkan kehidupan dan kesaksian hidup orang Kristen. 

C. Metode Pelepasan
            Sarana agar Iblis tidak menggoda kita adalah dengan menjaga hubungan dengan Tuhan. Yaitu dengan menerapakan kebenaran firman Allah yang akan membimbing kita dalam kehidupan kita. Dimana pada saat seseorang menjalani proses itu dalam kehidupannya, dia membuka hatinya dan meminta agar Tuhan menyatakan semua dosa yang belum ditinggalkan serta semua ikatan yang belum diputuskan, Tuhan akan membantu kiita untuk melepaskan itusemua dan memerdekakan kita. Setelah itu kita berdoa untuk meminta bimbingan dan perlindungan Tuhan. Dengan memilih kehendak Allah, berarti kita telah memerintahkan Iblis untuk melepaskan kita.

D. Perbedaan Pelepasan Menurut Sappington dgn Pengudusan Menurut Alkitab
            Menurut Sappington, manusia haruslah yang membuka diri dahulu pada Tuhan untuk dikoreksi, mengakui, memilih kehendak-Nya dan meminta bimbingan. Dan setelah itu Tuhan akan bekerja untuk membantu kita. Saya rasa sama dengan konsep pengudusan di dalam Alkitab. Dimana manusia dulu yang harus membuka dirinya, sehingga Tuhan dapat bekerja di dalamnya. Di sisi lain, karena kasih-Nya, Allah juga telah mengutus Anak-Nya untuk menebus dosa (menguduskan) manusia. Namun tentu saja hal itu hanya dapat diterima oleh orang yang mau membuka hatinya.

E. Evaluasi: 7 Langkah Kemerdekaan
1.   Berdoa pada Tuhan agar Tuhan dapat menuolong kita mengungkapkan keterlibatan kita dengan kuasa gelap.
2. Memusatkan kehidupan hanya pada kebenaran Allah.
3. Pengampunan yang berarti juga melepaskan semua yang lalu. Termasuk melepaskan semua kepahitan atau kebencian pada semua orang.
4. Mengakui dosa dan sungguh-sungguh merendahkan diri dihadapan Allah, dalam arti lain tidak menjadi pemberontak.
5. Meninggalkan segala macam kesombongan. Kesombongan untuk mengikuti kehendak kita bukan kehendak Allah, yang akan membuka peluang untuk musuh kita.
6. Meninggalkan segala keterikatan yang dapat menjadi suatu kebiasaan, dengan doa.
7. Menolak dan memutuskan ikatan roh jahat dan menyerahkan tubuh kita pada Allah agar dipenuhi oleh Roh Kudus.
            Semua hal yang ada pada langkah-langkah ini adalah benar. Kita sebagai manusia harus selalu ingat dan benar-benar sadar akan keberadaan kita sebagai manusia yang harus selalu merendahkan diri, bergantung pada Tuhan, membuka diri pada koreksi yang Tuhan berikan. Sehingga Tuhan benar-benar berkuasa akan tubuh kita dan menjaganya.

Book Review: Mission on The Way: Issues in Mission Theology

Judul Buku            : Mission on The Way: Issues in Mission Theology
Pengarang             : Charles Van Engen
Penerbit                 : Michigan, Baker Book House, 2000
Jumlah Halaman    : 262 halaman

            Dalam tiga puluh tahun terahkir ini Teologi Misi tampak sudah bergeser pada gerakan misi yang praktis. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa banyak hal yang dapat diamati dalam dunia misi, tantangan juga sangat banyak dan makin kompleks adanya. Pada saat inipun dilihat telah makin banyak konsep misi yang dirasa bisa makin jauh dari tujuan dan prinsip misi mula-mula, karena tiap gereja kemudian mengembangkan apa yang mereka rasa perlu sesuai dengan tantangan yang mereka hadapi. Oleh karena itu, setiap saat perlu adanya suatu ‘pengembalian’ pada Alkitab, yaitu apa yang dikatakan Alkitab mengenai misi itu sendiri. Yang menjadi inti sebenarnya di dalam Alkitab itu sendiri adalah menyebarkan kabar baik mengenai Kerajaan Allah pada tiap bangsa. Dan di dalam buku inilah, Charles Van Engen berusaha untuk mengembaliukan semuanya itu, yaitu pada apa yang menjadi tujuan utama dari Teologi Misi itu semula.
            Hal ini berkaitan dengan adanya sentral dari semuanya itu, yaitu Missio Dei, Missio Kristi dan Missio Ecclesiae. Engen mengingatkan bahwa apa yang menjadi pelayanan kita di dalam tugas misi bukanlah kita, melainkan adanya kekuatan Allah Tritunggal yang bekerja dalam masing-masing tugasnya dalam menolong kita dan orang-orang yang akan kita beritakan kabar tersebut. Hal ini juga berkaitan dengan adanya kedaulatan Allah yang bekerja dalam tugas misi. Allah berdaulat penuh atas orang-orang pilihan-Nya. Sering konsep ini membuat seseorang enggan untuk melakukan sesuatu dalam tugas misi. Ini adalah konsep yang salah tentunya, karena Allah tetap memakai kita untuk dapat menjangkau mereka. Serta penggilan dan tugas yang telah Allah berikan, yaitu untuk memberitakan kabar baik itu adalah suatu hal yang bersifat mutlak. Setiap orang percaya mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk hal itu.
            Dalam menuliskan buku ini, Engen banyak melihat pada buku-buku yang telah banyak memberikan sumbangan pemikiran dalam dunia misi dan menanggapinya. Hal pertama yang dibahsanya adalah hal yang lebih spefisik, yaitu konsentrasi pada daerah perkotaan, Engen berusaha menjawab dan mengomentari tiap pertanyaan/ pernyataan dari setiap orang, bersama dengan rekan-rekannya yang juga mempunyai pergumulan dengan masalah yang serupa. Namun dari tiap pemikir-pemikir ini, yang menjadi tujuannya tetaplah satu, yaitu untuk lebih mengerti semakin dalam akan adanya potensi di dalam adanya kontribusi yang dapat diberikan oleh teologia naratif dalam hal ini. Serta bagaimana cara mengaplikasikan/ merefleksikan teologi naratif itu ke dalam pelayanan misi, terkhusus dalam lingkungan perkotaan.
            Apa yang menjadi suatu pegangan dalam kehudupan orang-orang di perkotaan harus diperhatikan. Hal ini untuk mendasari bagaimana seseorang dapat menyesuaikan pola pemikiran, kebiasaan serta bagaimana dapat menyampaikan sesuatu yang dapat mereka tangkap dengan benar dan meresponinya.
            Di sini, Engen memberikan contoh dari pelayanan Paulus pada jemaat di Efesus. Nasihatnya pada jemaat di Efesus untuk dapat bersatu, hidup dalam kekudusan serta melayani secara universal. Hal-hal tersebutlah yang sangat penting dalam pelayanan misi, karena setiap orang yang bekerja dalam pelayanan misi tidak akan mungkin dapat bekerja sendiri.
            Selain itu perlu adanya pengetahuan kita tentang sejarah perkembangan misi. Apa yang menjadi pemikiran serta keputusan di dalam Konsili Nicea sampai Konsili Vatikan. Dan juga bagaimana menurunnya perkembangan misi dalam masa Reformasi. Karerna dengan kembali melihat apa saja yang pernah terjadi pada dunia misi selama empat puluh tahun terakhir ini, kita akan dapat melihat apa saja yang sudah dikerjakan dari masa ke masa, bagaimana strategi, tujuan, motivasi dan konteks yang dihadapi dari masa ke masa. Hal itu akan menuntun kita yang ada pada masa sekarang ini.
            Apa yang menjadi tantangan yang dihadapi, yang menjadi hal yang sepertinya adalah sesutau hal yang besar adalah masalah banyaknya topik yang ada dalam ke-universal-an (pluralisme), budaya yang bertentangan dengan iman Kristen. Kemudian Engen menjelaskan bagaimana paradigma misi dalam kekristenan yang unik, berbeda dengan yang lainnya.
            Dalam perkembangan masyarakat perkotaan, yaitu pada era modern dan posmodern, tampaknya telah membawa pengaruh yang sangat besar bagi keadaan sosial masyarakat itu sendiri. Pelayanan misi tetaplah harus menghormati hal ini sebagai suatu perkembangan meskipun belum tentu perkembangan yang mengarah pada yang lebih baik. Oleh karena itu, dalam hal ini penginjilan pada masyarakat perkotaan akan lebih banyak menggunakan metode penginjilan pribadi. Serta bagaimana menyiasati pemikiran-pemikiran orang pada masa sekarang ini yang telah dirasuki oleh paham rasionalisme, perkembangan sains dan teknologi. 
            Dari sedikit pembahasan mengenai hal-hal pokok yang menjadi pemikiran dan dituliskan oleh Charles Van Engen ini, tampak bahwa ia adalah seorang yang sangat melihat keadaan perkotaan. Tentu yang dilihat adalah perkotaan di mana ia tinggal, namun sepertinya hal ini juga tidaklah jauh dengan konteks sekarang kita berada.. Karena baik banyak ataupun sedikit, pengaruh itu pasti akan muncul kemudian. Pergerakan misi-pun, selain harus selalu berdasarkan pada apa yang Alkitab katakan, juga harus melihat pada situasi yang ada. Apa yang menjadi perkembangan dunia memang sangat banyak yang bertentangan dengan apa yang Allah kehendaki. Namun dalam bermisi hal-hal yang berbeda itu bukan-lah untuk diperangi, melainkan ada bagian yang harus dikuti untuk dilawan. Hal ini bukan berarti juga berkompromi.
            Dan pada akhirnya, Engen memberikan solusi untuk dapat dilakukan di tengah permasalahan/ tantangan yang dihadapi dalam dunia misi yang sangat kompleks tersebut. Yaitu hanya dengan iman, pengharapan dan kasih. Jika semua orang yang terjun dalam dunia misi telah benar-benar mampu menanamkan hal tersebut di dalam pelayanan mereka, tugas misi akan menjadi suatu hal yang menyukacitakan, meskipun banyak tantangan yang dihadapi dan senantiasa berpusat pada Allah.

             


Ringkasan Buku: Ajal Agama di Tengah Kedigdayaan Sains



Judul Buku            : Ajal Agama di Tengah Kedigdayaan Sains
Pengarang             : Huston Smith
Penerbit                 : Bandung, Mizan, 2003
Jumlah Halaman    : 428 halaman

1. Siapa yang benar mengenai realitas: Kaum Tradisional, Modernis, atau Posmodernis?
             Ada 3 hal yang harus dihadapi tiap manusia dalam kehidupannya, yaitu masalah alamiah, sosial dan religius. Di dalam periode besar sejarah manusia, ketiga hal itu mendapat perhatian yang berlainan.
o   Periode tradisional yang mempunyai kewajiban sebatas komunitas dimana mereka tinggal. Alam adalah sesuatu untuk dipakai, bukan untuk dikritisi. Tingkat kemanusiaan sangat tinggi.
o   Periode modern adalah suatu periode yang sangat mendobrak keberadaan manusia selama dibentuk dalam periode tradisional. Banyak hal-hal baru yang muncul dalam periode ini. Perjalanan dan perdagangan yang makin cepat, melahirkan struktur sosial yang sangat berbeda dengan sebelumnya. Yang paling mencolok adalah pandangan ilmiah mengenai alam. Segala hal harus dibangun berdasarkan kebenaran yang sudah dibuktikan. Pandangan bahwa sains dapat mengkaji segala yang ada. Dalam masa ini, perkembangan estetika yang selama periode tradisional dikembangkan menjadi hal yang tidak lagi relevan. Namun, kelemahan yang ada pada periode ini adalah bagaimana tiap penemuan selalu berubah sehingga masalah umur bumi-pun belum dapat dipastikan. Modernitas adalah masa yang miskin secara metafisis, walaupun mengakui adanya pikiran dan perasaan (yang keberadaannya tetap tergantung pada materialisme dan naturalisme).
o   Periode posmodern orang lebih berupaya mengatasi masalah ketidakadilan sosial. Memang sains pada masa ini terus mengalami perkembangan, namun tidak seunggul fisika modern, karena tidak ada gagasan baru, semuanya hanya perkembangan dari yang sudah ada. Bahkan apa yang menjadi hipotesis baru bukanlah pengaruh bagi kehidupan. Karena yang menjadi pertanyaan adalah hal yang berkaitan dengan konsep kebenaran. Masa dimana masalah ketidakadilan sosial diakui dengan sungguh-sungguh. Masa yang memang semula mengkritik pandangan dunia yang salah dari masa modern dengan pencerahan, namun terlalu ekstrem karena beragumen bahwa semua pandangan dunia pada prinsipnya salah.

2. Dunia yang Luas dan Terowongan di Dalamnya
Baik pada periode modern dan posmodern gagal menangani masalah metafisika, namun bukan berarti kalangan tradisional lebih baik dari pada keduanya. Dari perubahan dari masa ke masa, bukan berarti apa yang ada pada masa sekarang adalah lebih buruk dari sebelumnya. Tetap ada hal-hal yang menggembirakan di tengah banyak hal yang menakutkan. Karena apa yang ada sekarang adalah suatu hal yang dipengaruhi oleh masa sebelumnya. Dan tidak akan pernah kita menemukan masa yang sempurna dimana mempunyai bentuk dan gagasan yang teratur. Dunia modern sendiri kadang tampak menghalangi kita untuk menyentuh segala hal melalui fantasi. Hal inilah yang menjadi pemacu pada masa posmodern, yaitu keinginan manusia untuk lepas dari eksistensi moralnya yang membatasi.
Pandangan dunia tradisional memang sudah runtuh, walaupun tidak seluruhnya. Dan sebenarnya, sangat sedikit orang yang benar-benar murni berpegang pada pandangan dunia ilmiah atau tradisional tanpa memasukkan unsur yang satu ke dalam unsur yang lain.

3. Terowongan Itu Sendiri
Kalau membicarakan kebenanaran, pandangan dunia tradisional-lah yang menang.  Penemuan sains memang telah merebut posisi itu, namun hanya sebatas hal yang menyangkut semesta fisik. Hal di luar itu, tidak dapat diatasi oleh sains. Runtuhnya metafisika adalah karena adanya pandangan yang salah mengenai ilmuwan, yaitu mempunyai posisi yang lebih baik dari pada filsuf. Posmodern juga salah satu akibat runtuhnya metafisika, karena menganggap pandangan dunia selalu menindas dan tidak dapat dilenyapkan dari kehidupan manusia.
4. Lantai Terowongan: Saintisme
Sains adalah hal yang telah mengubah dunia. Hal yang membedakan yang modern dengan yang trsdisional. Sedangkan saintisme adalah metode ilmiah yang diandalkan untuk mencapai kebenaran sebagai alat untuk menangani masalah fundamental. Karena tanpa dukungan fakta, suatu asumsi hanyalah sekadar opini. Hal ini memacu para kritikus sosial untuk mengatakan bahwa manusia sekarang telah menderita karena pemberhalaan sains yang mempunyai mitos dan pemahaman yang salah serta dapat membahayakan. Di sisi lain, saintisme makin menyatakan bahwa sains adalah satu-satunya jalan menuju kebenaran.
Hal yang menyebabkan para ilmuwan ini terus mengembangkan sesuatu tanpa berhenti adalah karena perasaan mereka bahwa diri adalah pengkhianat kalau tidak mendukung peningkatan prestise, kekuasaan dan bayaran profesional mereka, meskipun mereka telah belajar bagaimana seni hidup bersama.
Konflik antara sains dan agama hanya ada dalam pikiran manusia, tidak ada pada logika. Di satu sisi, sains mendorong karakter dunia ilmiah. Di sisi lain, agama bekerja pada tujuan, makna dan nilai kehidupan. Kedua kekuatan ini adalah kekuatan yang permanen. Triumvalisme agama memang telah mati beberapa abad yang lalu, dan triumvalisme sains akan mengikutinya.
            Untuk mencoba menyatukan keduanya, banyak hal telah diusahakan, seperti perundingan dimana para teologi-lah yang banyak mengambil inisiatif. Hal ini adalah sarana yang baik untuk dapat mempertahankan posisi masing-masing. Seperti yang menjadi tinjauan dalan konferensi CTNS yang tidak sesuai dengan pandangan dunia ilmiah, yaitu (1) kritik terhadap Darwinisme, (2) semesta ada sebagai rancangan yang intelegen, (3) kemungkinan bahwa Tuhan campur tangan dalam sejarah melalui cara lain dari hukum.

5. Dinding Kiri Terowongan: Pendidikan Tinggi
            Mulanya, pendidikan tinggi mengakui kebenaran yang dapat diraih oleh rasio kodrati dan tanpa bantuan wahyu. Namun  tetap sains dan agama adalah dua hal yang sejalan. Setelah beberapa abad lalu saja, agama semakin di desak oleh sains. Sains, teknologi dan bisnis menjadi hal yang marak dan wajar. Sehingga banyak bidang-bidang ilmu yang mangalami pergeseran, seperti ilmu sosial, psikologi, humaniora, filsafat dan kajian agama. Tuhan dan masalah sosial tidak lagi mempunyai kedudukan, yang menjadi dasar adalah fakta ada atau ketidakadaan Tuhan. Memang ada fakta objektif mengenai agama dan penyebarannya, namun hal ini tetap tidak dapat memberi sumbangan seperti yang diharapkan. Bahkan dalam periode terakhir ini universitas modern tampak memusuhi agama. Mereka hanya akan menerimanya selama tidak didefinisikan. Mereka menolak upaya teologi dan metafisika untuk meraih sesuatu yang mengatasi harapan dunia saat ini. Filsafat dan sains adalah hal yang masih mampu menjawabnya. Tidak sama halnya dnegan teologi. Serangan-serangan seperti itu terus menempatkan teolog pada posisi yang sulit. Dan pada abad ke-19, universitas Amerika membawa revolusi dan pemahaman mengenai kehidupan intelektual melalui sains dan sekularisme serta membebaskan diri dari hal religius.

6. Atap Terowongan
            Dalam suatu drama garapan para sejerahwan yang berjudul Inherit the Wind, tampak sekali jalinan fakta sebagai dasarnya. Bahkan dengan jelas menggambarkan bagaimana seorang kesatria yang melawan kelangan agamawan yang bodoh, fanatik dan kolot. Memang seni mempunyai hak untuk memilih dan menekankan bagian tertentu untuk memperjelas cerita. Begitu pula dalam drama ini yang dengan jelas mempertentangkan pihak yang baik dengan yang jahat. Media-media yang ada saat ini memang tampak memperlakukan agama seperti itu.
            Kansas Board of Education mengambil keputusan untuk meningkatkan perhatian sekolah publik pada evolusi. Hal ini sebagai dasar sains mulai tahun 1995.

7. Dinding Kanan Terowongan: Hukum
            Agama dan hukum adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Namun yang menjadi permasalahan adalah hukum yang selalu berubah dan opini yang berbeda-beda. Contohnya adalah masyarakat Indian yang tidak terdidik dengan baik untuk mempertahankan hak mereka sehingga permasalahan baru dapat terselesaikan setelah 6 tahun dengan hasil larangan terhadap pemerintah untuk menangani pelaksanaan bebas suatu agama. Atau yang terjadi di Amerika, karena dirasa perkembangannya dapat menyesatkan banyak orang. Dari contoh di atas saja dapat dilihat bagaimana kepentingan negara yang memaksakan kehendaknya. Bahkan ada pendapat yang mengatakan bahwa agama senantiasa memiliki kekuatan resistensi yang luar biasa, sehingga jika tidak ditundukkan, ia akan hidup dalam perlawanan. Ini dapat terjadi karena agama yang memang memiliki kekuatan untuk memberi sumber energi bagi pembaruan kemanusiaan.

8. Cahaya
            Sains tidak dapat membuktikan adanya Tuhan karena Tuhan ada di luar jangkauannya, sehingga cahaya merupakan hal yang dapat menjadi metafor universal bagi Tuhan. Cahaya dapat memasukkan kekuatan ke dalam dunia. Hal ini tampak dari proses fotosintesis, padahal cahaya adalah sesuatu yang tidak bermateri. Sementara cahaya ada di luar matriks ruang, waktu dan materi, namun ia mampu mengatus seluruh alam. Cahaya adalah hal yang dapat melambangkan kejelasan, kejernihan dan pemahaman.

9. Apakah Terang Makin Meningkat? Dua Skenerio
            Prediksi terhadap apa yang akan terjadi pada masa depan adalah hal yang sangat sulit. Harus diketahui bahwa waktu (kronos) adalah hal yang menentukan, sehingga tidak ada satu hal-pun yang dapat diduga. Pada periode modern dirasa metode ilmiah-lah yang dapat menggantikan posisi wahyu, sebagai jalan utama menuju pengetahuan. Dan bagi agama, hal ini bukanlah hal yang sepele. Karena jika perkembangan fisika telah berhasil menarik orang untuk mengikutsertakan kesadarannya di dalam suatu eksperimen, agama dapat melihat semuanya dengan mata iman. Dengan hal ini, maka masa depan agama adalah suatu hal yang terjamin.

10. Membaca Tanda-Tanda Zaman
            Banyak yang meragukan kemampuan bertahan suatu agama, namun para antropolog sendiri telah menyatakan bahwa tidak ada masyarakat tanpa agama. Sehingga dapat dikatakan bahwa agama mempunyai kemampuan adaptasi yang luar biasa. Bahkan para neurolog juga menemukan bahwa agama berguna pada struktur otak manusia. Sehingga kepercayaan terhadap suatu agama adalah hal yang tak terelakan. Manusia mempunyai kebutuhan religius yang amat dalam. Fakta mengatakan bahwa sains telah memberikan kekuasaan kepada mansuia atas alam yang tdiak dapat dikira sebelumnya, namun di sisi lain membuat manusia tidak mempunyai kebijaksanaan dan keutamaan untuk mengendalikan diri, sehingga kekuasaan itu dipakai untuk kepentingan pribadi. Dengan demikian, pada zaman ini, apa yang telah dinyatakan oleh pemikir-pemikir modern, seperti: Darwin, Marx, Nietzche dan Freud, tampaknya tetap harus dikaji ulang.

11. Tiga Sains dan Jalan ke Masa Depan
            Fisika: Segala hal yang dipersepsi dengan indera dan diklasifikasikan ke dalam aturan adalah dunia relatif. Maka, tidak ada yang pasti di dunia ini. Waktu dan perubahan menetukan segalanya.
            Biologi: Yang menjadi contoh adalah teori darwin yang tidak mempunyai bukti untuk klaim yang lebih besar.
            Psikologi Kognitif: Pandangan yang menganggap bahwa relasi antara jiwa dengan tubuh  adalah hal yang terlalu besar untuk dipikirkan, manusia yang serba terbatas.

12. Syarat-Syarat Suatu Detente
            Banyak yang tidak percaya akan keterbatasan dunia ilmiah. Kesalahpahaman ini tentu akan membuat orang terjebak dalam terowongan modernitas karena keyakinan itu sama saja dengan tidak menganggap bahwa seni, agama, cinta dan soal kehidupan mampu memberikan pemahaman lain yang diperlukan untuk melengkapi apa yang dapat diberikan sains. David Bohm mempunyai pandangan bahwa sains begitu luas, karena dapat mencakup ‘saya’ di dalamnya. Hal ini harus mendapat perhatian, yaitu agar dapat memisahkan antara sains dan filsafat.
            Sains harus mempunyai batas. Batasan tersebut dapat digambarkan dengan citra: apa yang dilakukan oleh modernitas sebenarnya adalah mengecilkan tirai jendela sehingga kita hanya dapat melihat ke bawah. Itupun sudah tampak sangat menakjubkan. Anekdot: hal agama adalah hal yang tidak lagi dianggap, hanyalah kepercayaan semasa kanak-kanak. Dengan hal ini sama saja sains telah menghapus transendensi agama dari peta realitas manusia. Analisis: anggapan bahwa sains adalah cara ‘sakral’ untuk dapat mengetahui sesuatu, menempati posisi yang sama dengan wahyu. Hanya saja dia memerlukan pembuktian untuk menyaring kebenaran dan mengontrol segala sesuatu secara sadar.
            Enam hal yang tidak dapat ditangani oleh sains: (1) nilai dalam artian final yang sesungguhnya, (2) makna eksistensial dan global, (3) penyebab terakhir, (4) yang tak kasat mata, (5) kualitas, (6) yang lebih tinggi dari manusia. Dengan demikian, seharusnya ada pembagian kerja antara agama dan sains, karena sains hanya sedikit menyentuh bidang kehidupan sedangkan agama berurusan dengan yang meyeluruh. Agama melingkupi lingkaran yang lebih besar, bukan berarti agama lebih untung; sains bekerja lebih efektif dalam bidangnya ketimbang agama dalam bidangnya sendiri.

13. Dunia yang Ambigu
            Ada proses 2 arah yang sekarang ada pada kita, yaitu dunia yang datang pada kita dan kita yang mandatangai dunia dengan penginderaan, konsep dan kepercayaan yang ada pada tiap manusia. Namun ada sesuatu dalam diri manusia yang menolak apa yang ada. Sehingga rasanya tidak cukup untuk menerima begitu saja apa yang datang pada kita, dan dirasa perlu untuk mencari dan menemukan makna kehidupan sendiri.
            Kalangan konservatif agama sendiri pasti akan memandang kebenaran sebagai sesuatu yang absolut. Tentu ada kelemahan dengan adanya hal ini, yaitu menciptakan suatu bahaya fanatisme, bahkan memaksakan Kebenaran itu pada orang lain. Dengan hal ini, tampak ada beberapa kebaikan dari kaum liberal yang lebih memiliki toleransi.

14. Gambaran Besar
            Dari pandangan dunia tradisional, dapat dilihat beberapa hal yang menjadi dasar, yaitu: (1) imanensi dan trasendensi, (2) semesta fisik yang meripakan lingkaran kecil dalam lingkaran besar yang melingkupinya, sehingga sains tidak akan mampu untuk menguak apa yang ada di dalamnya, (3) secara metafisis, dalam dunia modern dan posmodern, dunia hanya dapat ditegaskan sebagai dunia ini, (4) perbedaan antara sains yang kuantitatif dan agama yang kualitatif.
            Dunia yang kasat mata adalah dunia yang sejauh yang ditangkap oleh panca indera. Sehingga saat ada usaha untuk mengembangkan indera manusia lebih jauh, apa yang menjadi dasar perbedaan antara yang kasat mat adan yang tidak kasat mata mengalami perubahan. Sedangkan dalam pandangan dunia tradisional, menganggap hal-hal non-material sebagai sesuatu yang konkret.
            Banyak pertanyaan yang diajukan oleh pandangan dunia ilmiah dan memaksa kita untuk menjawabnya, tetapi pandangan dunia ilmiah sendiri tidak mampu untuk menjawabnya. Namun, tidak demikian halnya dengan pandangan dunia tradisional. Termasuk untuk pertanyaan: dapatkah sesuatu datang dari yang tidak ada? Dapatkan arus lebih tinggi dari pada sumbernya?

15. Tipe-Tipe Kepribadian Spiritual
            Dalam berbagai karakter yang ada dalam tiap manusia, yang menjadi pusat perhatian adalah dimensi kerohanian manusia. Dasar akan hal ini mempengaruhui bagaimana pandangan suatu komunitas terhadap keberadaan Tuhan. Bahkan termasuk kaum ateis, politeis, monoteis dan mistik.

16. Ruh          
            Telah banyak usaha para fiosof dan ilmuwan untuk menjembatani antara pikiran dan materi. Namun sepertinya sampai sekarang belum ada jembatan yang pas untuk menghubungkan keduanya. Di mana rasio melakukan operasi logis berdasarkan informasi yang kelihatan. Akan tetapi tidak ada yang mengetahui bagaimana cara kerjanya. Tetap menjadi suatu hal yang misteri.
            Namun ruh tetap merupakan landasan dunia. Karena Tuhan-lah yang juga merupakan penyebab paling awal dari segala sesuatu. Karena pentingnya pengetahuan akan hal ini, bagi para saintis, dapat berusaha untuk mengeri Tuhan dengan melihat keberadaan cahaya.

Epilog

            Walaupun sampai sekarang masih sulit untuk menemukan jembatan antara keduanya, namun diyakini bahwa dua hal ini masih dapat bersaudara. Dengan menyadari adanya keterbatasan dalam menjawab setiap pertanyaan, bukan sebagai hal yang mendorong untuk bergulat dalam kebingungan, namun bagaimana dapat bekerjasama dan meletakkan pada posisi masing-masing, sesuai dengan kemampuannya.